Rumah Baru untuk Ikanku

“Mengajar (mendidik) adalah tentang mencicil. Mencicil hal yang tak terlihat, hal yang tidak bisa dirasakan langsung, ambil bagian dari menabung untuk masa depan. Kalau memang hasilnya bisa langsung terlihat, itu adalah sebuah bonus.” ~Hikmat Hardono~

Setiap hari adalah berbeda, setiap hari adalah unik, setiap hari memiliki ceritanya sendiri. Saya masih ingat suatu pagi dimana anak-anak sempat berteriak heboh karena salah satu temannya menendang seekor semut ketika bermain. “Ya kan semutnya mau main juga kaya kita. Kalau semutnya mati, teman-temannya nanti nyariin.” Ucap salah seorang.

Di hari lainnya, tanggal 10 November juga masih terekam jelas di ingatan. Saya tak berharap mereka mengerti banyak atas apa yang akan saya katakan, paling tidak saya telah menyampaikan dan memberikan contoh yang baik. Pagi itu saya bercerita tentang hari pahlawan. Ada yang bertanya, “Pahlawan itu apa?” Tapi ada yang segera menyambung dengan, “Ya… kaya superhero gitu.” Lewat sebuah dongeng, diceritakan sekelompok anak yang menjadi pahlawan untuk lingkungannya, membersihkan museum, membantu mengumpulkan sampah, atau membantu keluarga di rumah. “Aku juga mau jadi pahlawan ah, aku mau bersihin kolam ikan setiap hari. Aku juga mau jagain kolam biar nggak ada yang kobok-kobok.”

Ternyata benar, setiap kisah akan merangkaikan dirinya sendiri menjadi sebuah kisah baru. Masih di bulan yang sama, terjadi angin siklon tropis Dahlia. Angin sangat kencang bertiup beberapa hari itu, menggugurkan daun, menerbangkan karya-karya, hingga menerbangkan batang-batang pohon rambat hingga masuk kedalam kolam. Suatu siang sepulang sekolah, si anak ‘pahlawan kolam’ ini berlari menemui saya, “Kak, ada ikan yang mati di kolam. Ketimpah pohon. Kasihan.” Saya kemudian datang menuju kolam dengan membawa ember, ya dengan maksud agar ikannya ditaruh di ember terlebih dahulu saja. “Kakak ngapain bawa ember? Kita langsung kuburin aja ikannya.” Terangnya.

He is beyond. Saya, dia dan beberapa temannya yang mengikuti akhirnya pergi ke arah kebun. “Kak, dikubur disini aja.” Tunjuknya ke arah tanah yang sekilas terlihat lebih lunak dibandingkan yang lain. “Sebentar, kaka carikan sekop dulu.” Ucap saya mencari sekop di sekeliling. “Kita galinya pake ranting aja kak, kasihan ikannya kelamaan nanti.” Kemudian ia dan teman-temannya menggali tanah hingga cukup dalam seukuran dengan ikan tersebut.

“Kak, minta tisu dong.”

“Untuk apa?”

“Ya biar di bungkus. Kan kalau manusia yang meninggal juga gitu.” Kemudian ia membungkus ikan tersebut dengan beberapa lapis tisu.

Tak lama, seorang teman lainnya datang. “Loh kok dikubur?”

“Ya kalau meninggal kan di kubur.”

“Kenapa nggak dibakar (kremasi)?”

Setelah perdebatan khas anak-anak yang sempat membuat saya tersenyum-senyum sendiri itu, akhirnya diputuskan ikan tersebut akan tetap dikuburkan.

“Kita harus cari penanda nih, nanti kita lupa ikannya dimana kalau mau doain.” Katanya. Kemudian ia melihat sekelilingnya. “Aku boleh minta stiknya, nggak?” Tanyanya sambil menunjuk stik jelly yang sedang dimakan salah satu temannya. Temannya membalas dengan anggukan sedikit bingung.

IMG_9925

Maka diberikanlah tanda nisan makam dengan menggunakan stik es krim saat itu. Beberapa teman-teman yang baru tiba juga turut menyumbangkan stik jelly miliknya sebagai tambahan penanda. “Aku bantu cari bunga, ya.” Inisiatif 2 orang anak perempuan untuk menaburkan di atas makam. Si pahlawan kolam ini turut pergi dan tak lama membawa pengki berisi sedikit air dan menyiramkannya di atas makam. Beberapa temannya bersorak, “Ihhh… kenapa di siram?”

“Ya kan kalau habis dikasih bunga biasanya atasnya dikasih air.” Hmmm… sejujurnya saya tidak menyangka ia tahu banyak tentang tata cara prosesi pemakaman hingga sedetail itu.

Setelahnya, tanpa perintah atau aba-aba dari saya mereka serta merta berjongkok dengan sikap tangan siap berdoa. “Tuhan, semoga ikannya bisa bahagia di surga. Punya banyak teman. Terima kasih, Tuhan. Amiinn.” Pimpin salah satu teman.

“Besok aku mau kesini lagi untuk tambah bunga dan doain dia lagi.”

IMG_9927

 

 

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Rumah Baru untuk Ikanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s